Menulis Itu Tidak Berat, Asal Mulai dari yang Kecil

Dulu, sekitar 10 tahun lalu, saya pernah bekerja sebagai freelance writer.

Ritmenya cukup gila: bisa menulis 10–20 artikel dalam sehari. Menulis waktu itu bukan hanya pekerjaan, tapi juga semacam latihan marathon otak setiap hari.

Namun, seiring waktu, fokus saya bergeser. Saya menemukan hobi baru di dunia fotografi dan desain. Dua hal itu membuat saya berhenti menulis rutin, bahkan sampai bertahun-tahun nyaris tidak menyentuh tulisan panjang.

Dan kini, lewat artikel ini, saya ingin kembali ke kebiasaan lama: menulis secara konsisten.

Bukan lagi puluhan artikel per hari, tapi cukup satu tulisan setiap minggu sebagai bentuk komitmen pada diri sendiri.

Banyak orang mengira menulis itu pekerjaan yang melelahkan. Harus duduk berjam-jam, menunggu ide, mencari kata yang tepat, sampai akhirnya… tidak jadi menulis sama sekali.

Padahal, menulis bisa dibuat sederhana. Triknya adalah mulai dari hal kecil.

Ibarat olahraga, kita tidak langsung angkat beban terberat. Kita mulai dari yang ringan, lalu perlahan-lahan naik level.

Menulis pun sama. Semakin kecil targetnya, semakin mudah untuk memulainya.

Kenapa Cukup 5 Menit?

Lima menit terdengar sepele, tapi justru itu yang membuatnya efektif.

Dengan target sesingkat itu, otak tidak merasa terbebani. Tidak perlu menunggu inspirasi, tidak perlu kalimat sempurna. Yang penting mulai.

Satu kalimat bisa berkembang menjadi paragraf. Satu paragraf bisa menjadi artikel.

Jika dilakukan terus-menerus, tanpa terasa kita sudah punya kebiasaan menulis yang konsisten.

Momentum terbentuk dari langkah kecil, bukan dari paksaan besar.

Masih Terasa Berat? Coba Cara ini

Untuk melatih ritme, saya mencoba pendekatan sederhana ini:

Hari 1: Menulis satu kalimat.

Hari 2: Menulis tiga ide singkat dalam bentuk poin.

Hari 3: Mengembangkan satu ide menjadi tiga kalimat.

Hari 4: Mengutip satu kalimat dari buku/artikel, lalu menambahkan refleksi pribadi 2–3 kalimat.

Hari 5: Menulis satu paragraf pendek.

Latihan ini bukan untuk menghasilkan karya luar biasa. Tujuannya hanya satu: membiasakan diri menulis kembali.

Final Thoughts

Bagi saya pribadi, menulis bukan sekadar menuangkan kata. Ia adalah cara untuk merapikan pikiran, merekam proses, dan menjaga momentum belajar.

Setelah lama berhenti, saya ingin kembali, meskipun perlahan.

Satu minggu, satu tulisan. Itu sudah cukup untuk membangun ritme.

Karena menulis yang alami tidak datang dari inspirasi semata, melainkan dari kebiasaan yang terus dijaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Kerja Lebih Profesional: Kenapa Kamu Wajib Punya Skill Bikin Meeting Notes

Kerja Lebih Profesional: Kenapa Kamu Wajib Punya Skill Bikin Meeting Notes

Rahasia Membuat & Menamai Google Docs Sekaligus dalam 3 Detik

Rahasia Membuat & Menamai Google Docs Sekaligus dalam 3 Detik